Pencarian :

Senin, 20 April 2009

Tegakah Kita?

dikutip oleh hilal

Setiap kali Hana sakit, istri saya suka takut. saya bilang padanya, kenapa mesti takut? Sakit atau sehat, sedih atau bahagia, suka atau duka, kesuksesan atau kegagalan, semua itu adalah kesatuan yang utuh
dalam hidup kita senantiasa patut kita syukuri. Namun seringkali kita menghindari yang disebut dengan kegagalan, kesedihan, dan sakit.

Bahkan saya pernah berbincang dengan seorang kepala sekolah yang selalu sukses meluluskan para siswanya pada ujian nasional hampir mencapai angka sembilan puluh sembilan koma sembilan persen siswanya lulus. Ketika saya tanya apa resepnya. Sang kepala sekolah dengan bangga bercerita bahwa dirinya menganjurkan semua siswa jika tidak bisa mengisi soal ujiannya dikosongi aja lembar jawabannya dan nanti para gurulah yang mengisi jawaban soal-soalnya.

Saya katakan kepada kepala sekolah tersebut bahwa esensi pendidikan adalah membangun karakter anak didik. Bagaimana mungkin membangun anak didik jika para guru dan kepala sekolahnya tidak memiliki karakter. Sang kepala sekolah menjawab, jika hal itu tidak dilakukan maka lima puluh persen siswa mungkin bisa tidak lulus.

kenapa mesti takut? Jika siswa tidak lulus karena dia sudah belajar dengan sungguh-sungguh berarti menanamkan pada siswa tanggung jawab dan kelulusan itu hanya tolok ukur. Namun jika anak didik sudah dari sejak dini mereka mengerti bahwa kelulusan berarti menghalalkan segala cara maka akan berapa banyak anak kita yang akan menjadi srigala?

hidup ini sungguh indah, jika kita menggunakan cara-cara yang indah sekalipun cara-cara yang indah ini menghasilkan yang pahit. hanya orang-orang yang kuatlah yang akan mengunakan cara-cara yang indah
untuk bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Dan bagi orang-orang yang lemah imannya maka apapun caranya dihalalkan sehingga langitpun semakin kelam karena banyak orang tidak peduli lagi
dengan cara yang halal.

Dalam kesedirian saya tertegun menatap wajah sang kepala sekolah sambil berbisik, "Tegakah kita menjadikan anak-anak kita menjadi srigala? ataukah kita sudah menjadi srigala?"

Sumber,
http://agussyafii.blogspot.com

Rabu, 18 Maret 2009

UNTUKMU IBU

"Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Ia bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!', Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?', 'Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Bapakmu'." [HR. Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata: "Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo'akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah.

Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. Padahal Allah telah melarangmu berkata 'ah' dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul 'Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 : "(Akan dikatakan kepadanya), Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya".

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa riwayat disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Kamu dan hartamu milik bapakmu". [HR. Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud]

15 Maret 1959 ~ 15 Maret 2009
Semoga sehat dan berkah selalu, tetap diberikan kekuatan serta kesabaran.
Maafkan aku Ibu ...
Hanya untaian do'a yang bisa ananda haturkan,
Rabbighfirli waliwaalidaiya, warhamhuma kamaa rabbayani shoghiiro.

Sabtu, 14 Februari 2009

Tips kalo kena tilang ...

Guys... Sekedar info nih. Kalau kena tilang, langsung minta aja Slip Biru. Polisi Lalulintas itu punya 2 slip. Slip Merah dan Slip Biru. Kalau Slip Merah, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum.

Kalau kita dapat Slip Merah, berarti kita akan disidang. Dan SIM kita harus kita ambil di pengadilan setempat. Tapi ngerti sendiri kan prosesnya? Nguantri yg panjang bgt. Belom lagi calo2 yang bejibun.

Tetapi kalau Slip Biru kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. kita tinggal transfer dana ke nomer rekening tertentu (BNI kalo ga salah). Abis gitu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. Dan denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya itu tidak melebihi Rp. 50.000,- dan dananya Resmi, masuk ke Kas Negara. Jadi, kalau ada Polantas yang sampe minta under the table Rp. 75.000,- atau Rp. 100.000, (sorry) but it's true!! Masuk kantong sendiri. Tapi kalo Petugasnya minta dibawah itu ya silahkan .... itung2 amal lah ....
tips diambil dari : http://ciadie.multiply.com

Jumat, 13 Februari 2009

Keajaiban Tubuh Manusia ....

Nggak cuma bumi saja yang punya seven wonders of the world. Tubuh manusia pun ternyata menyimpan banyak hal menakjubkan yang susah dijelaskan dengan logika.

1. The Golden Ratio.
Setiap bagian tubuh manusia ternyata merupakan hitungan matematika. Believe it or not, Fibonacci numbers yang kita jumpai di buku Da Vinci Code, ternyata juga ada di tubuh kita sendiri. Bilangan Phi (1:1,61) adalah angka yang akan kita dapatkan setiap kali kita mengukur setiap inci tubuh kita. Coba deh perhatikan ruas jari tangan kita. Ruas kedua dari ujung berukuran 1,618 kali lebih panjang dari ruas terujung, begitu seterusnya. Rumus phi ini juga kita temui di wajah kita. Panjang hidung kita berbanding 1:1,618 dibanding lebar mulut dari ujung ke ujung. Gigi terdepan dengan gigi di sebelahnya juga berukuran 1,1618 kali lebih besar. Inilah yang disebut dengan The Golden Ratio.

Dr. Stephen Marquardt bahkan telah membuat topeng kecantikan berdasarkan golden ratio ini, dan orang yang mempunyai struktur muka paling mendekati topeng ini adalah cewek yang sudah diakui kecantikannya, seperti Ratu Nefertiti. Tapi wajah kita juga bisa cocok ke dalam topeng golden ratio, kok. Soalnya, setiap kali kita tertawa, maka kita akan semakin mendekati ukuran phi tersebut. Makanya, jangan cemberut!

2. Sidik Lidah
Selain sidik jari, ternyata lidah kita juga mempunyai pattern unik yang tidak dimiliki orang lain. Hmm, jangan-jangan di masa depan kita akan bikin paspor dengan sidik lidah, nih.Hehehe…

3. Hidup dan Mati
Saat kita membaca tulisan ini, sebenarnya sedang ada sekitar 50 ribu sel yang mati di dalam tubuh kita. Tapi, di saat yang sama, lahir pula 50 ribu sel baru yang menggantikannya (kecuali di otak, yang tidak bisa menumbuhkan sel baru). Wow, ternyata tubuh kita aktif banget, ya? Di saat yang sama, untuk mencerna isi kalimat ini, pesan tersebut disampaikan ke otak dengan kecepatan mencapai 250 mil per jam!

4. Tempat Tinggal Bakteri
Satu orang manusia mempunyai organisme hidup yang lebih banyak daripada jumlah seluruh manusia di bumi. Soalnya, dalam 1 inci tubuh manusia, ternyata merupakan tempat tinggal bagi kira-kira 32 juta bakteria!

5. Kepanasan atau Kedinginan?
Pernah makan makanan panas dan dingin, kan? Seberapa pun panas atau dinginnya makanan tersebut, tapi lidah kita masih bisa menerimanya, tuh. Hal ini disebabkan karena mulut kita menyesuaikan suhu makanan tersebut menjadi suhu normal, sehingga akhirnya bisa kita telan. Maksudnya, si mulut akan mendinginkan si makanan panas, dan menghangatkan si makanan dingin. Wah, ternyata mulut kita tak ubahnya seperti microwave dan kulkas, nih.

6. Anti Keriput!
Selain bisa menghilangkan stress, ternyata tertawa juga bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh, lho. Dan, menurut penelitian, anak-anak tertawa sekitar 300 kali setiap harinya, sementara orang dewasa cuma 15-100 kali saja tertawa. Ck ck ck, apa hidup mereka sedemikian beratnya, ya? Hehehe… Dan, nggak heran juga kalau orang dewasa itu jadi cepat terlihat tua. Soalnya, setiap 2000 kali wajah kita berkerut (misalnya karena kesal atau cemberut), maka muncullah segaris keriput. Makanya, jangan malas tertawa!

7. Self-healing
Tubuh kita ternyata tak ubahnya seperti Claire Bennet di serial Heroes yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Soalnya, setiap luka kita pasti akan sembuh, dan tubuh kita mempunyai ”keajaiban” untuk membentuk bagian tubuh yang baru. Misalnya nih, kaki kita terluka dalam karena terantuk batu. Lama-kelamaan, sel-sel di tubuh akan membentuk jaringan daging dan kulit baru untuk menutupi bekas luka tersebut. Namun demikian, ternyata ada satu bagian tubuh yang nggak bisa menyembuhkan dirinya sendiri lho, yaitu gigi. Kalau gigi tetap kita copot, jangan harap akan tumbuh gigi baru.

Kamis, 08 Januari 2009

Dari KANOUTE untuk Palestina


DetikSport - 08/01/2009 09:55
Frederic Kanoute memang dikenal sebagai muslim yang taat dan kerap bangga menunjukkan identitas keyakinannya itu. Pada tahun 2007 misalnya, pemain terbaik Afrika 2007 ini pernah memberikan gajinya selama setahun, sebesar 700.000 dolar AS atau sekitar Rp 7 miliar untuk menyelamatkan masjid terakhir yang ada di Sevilla.

Sebagai muslim yang taat, Kanoute tergugah dengan penderitaan Palestina. Usai mencetak gol ke gawang Deportivo La Coruna striker asal Mali itu membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan "Palestina" meski diganjar dengan kartu kuning setelahnya.

Dalam pertandingan Kamis (8/1/2009) dinihari WIB tersebut, Kanoute bermain cemerlang dengan mencetak gol kedua lima menit sebelum turun minum, saat timnya Sevilla mengalahkan Deportivo La Coruna di ajang Copa del Rey dengan skor 2-1.

Rabu, 26 November 2008

TUHAN SAYANG DENGAN KITA

Kisah dari seorang senior.
Matur suwun mas Deky "DQ" Werdoko (Alumni Politeknik Undip '92).


TUHAN SAYANG DENGAN KITA

Hari senin kemarin, saya mendapat pengalaman di jalan raya waktu berangkat kerja. Sebuah pengalaman yang mengingatkan saya atas pengalaman tahun–tahun sebelumnya.

Seperti biasa hari senin, pengendara kendaraan bermotor lebih tampak sibuk dari hari yang lain. Demikian juga di kota Batam, kota dimana Tuhan memberikan rejeki kepada kami sekeluarga saat ini. Melewati jalan utama di depan setasiun bahan bakar Sukajadi beberapa polisi memberi aba-aba kendaraan supaya lebih memperlambat jalan, dan ini ternyata sangat berguna kalau kita mengikuti aba-aba tersebut, tetapi kebanyakan kendaraan akan menaikan kecepatan lagi setelah melewati polisi tersebut walau di depan kantor Poltabes Barelang sendiri. Pagi itu, tepat di depan kantor polisi, setelah mengurangi kecepatan, saya sempat menengok ke kanan, dan sangat terkejut ketika mobil di depan saya berhenti mendadak, reflek saya menginjak rem dan beruntung berhenti hanya kira-kira setengah meter dari mobil di depan saya, lihat di spion, mobil di belakang juga melakukan hal yang sama.

Suara berdebam terdengar di depan, tapi saya hanya bisa terduduk lemas, dalam hitungan detik semuanya bisa terjadi, dengan muka pucat pengemudi depan saya menengok kearah saya dengan pandangan bingung juga. Beberapa polisi langsung sibuk mengatur jalan yang langsung macet, karena memang itu jalan utama.

Begitu mengambil jalur kiri, saya terhenyak, posisi mobil saya hanya selisih dua mobil dari mobil terakhir yang mengalami tabrakan beruntun. Sambil melewati deretan mobil yang tabrakan, ada lima atau enam mobil dengan kerusakan cukup parah, saya berucap lirih, Tuhan masih sayang saya. Tapi saya kemudian malu sendiri dengan ucapan itu, menyadari betapa piciknya saya, kalau saya hanya berucap seperti itu dalam posisi saya merasa diuntungkan.

Tuhan masih sayang sama saya, kata–kata itu terngiang di telinga saya, dan pikiran saya kembali ke pengalaman saya bertahun–tahun lalu, tahun 1999, di selatan pulau Sumatera. Saya kenal dengan seorang bapak yang berumur 40-an, badannya gempal dengan kulit hitam legam. Maklum pekerjaannya adalah kuli panggul.

Sering saya ngobrol sama beliau, berdua di warung minum kecil dekat terminal 7 Ulu Palembang. Beliau orang lampung yang mencoba mencari nafkah di kota itu. Karena keseringan ngobrol, suatu saat beliau mengajak saya berkunjung ke tempat tinggal beliau, di pelantar–pelantar pinggiran sungai musi. Tempat tinggal yang sangat jauh dari layak, dengan dinding yang lapuk dan lantai kayu yang siap ambruk.

“hati–hati mas, lantainya lapuk, makanya tadi saya ingatkan jangan makan banyak-banyak sebelum main ke tempat saya,” si bapak mengingatkan saya sambil tertawa, tawa yang selalu terlihat lepas dan penuh syukur. Saya hanya tersenyum, sambil tetap berhati-hati melangkah.

Terdengar suara langkah kaki, dua orang anak kecil muncul dari balik gorden yang lusuh, langsung mencium tangan bapaknya, saya sempat terhenyak, bukan karena dua anak laki–laki itu tampak khusuk dalam mencium tangan orang tuanya, tapi saya melihat mereka berdua ada kelainan pada kakinya, POLIO.! Mereka kemudian mencium tangan saya juga, saya sempat mengelus kepala anak yang paling kecil, dengan perasaan terharu.

Suara batuk dari balik gorden membuat saya berpaling, dan si bapak dengan masih tersenyum bangun dan minta ijin sama saya. “Mas sebentar saya tinggal, saya mau nyuapin istri saya dulu, sedang sakit,” kata beliau. Saya mengiyakan dan kemudian asyik ngobrol dengan dua anak lelaki beliau.

Selang setengah jam kemudian, beliau keluar lagi dan minta maaf kalau saya terlalu lama menunggu. “Oh tidak apa–apa Pak, memang ibu sakit apa, sudah ke dokter belum,” tanya saya. Si bapak tersenyum mendengar pertanyaan saya. “Istri saya sakit TBC mas, sudah lama, lebih dari sepuluh tahun, tapi sudah dua tahun ini tambah parah, tapi syukur saya masih diberi kekuatan untuk menemaninya,” kata beliau. Dalam hati saya, betapa bapak ini sangat susah, dua anak yang punya kelainan pada kakinya ditambah istri yang terbaring sakit, belia harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup, tapi juga harus melayani keperluan istrinya yang sakit.

“Maaf Pak, saya salut karena bapak bisa menjalani semua kesusahan ini,” kata saya terharu.
Tetapi beliau menjawab dengan tertawa, "maaf Mas, saya tidak merasa susah, saya bahagia, bersyukur sama Tuhan, di kasih istri, di kasih keturunan, dikasih pekerjaan". Saya hanya diam, terharu saya melihat cara bapak itu berbicara, nampak ikhlas.
Lebih diam lagi, ketika beliau melanjutkan kata–katanya,” Kalau mas lihat saya akan susah karena kondisi istri saya ataupun anak saya, kerja saya sebagai kuli panggul, itu tidak membuat saya merasa susah, tetapi saya bahagia, karena saya semakin sadar, bahwa Tuhan sayang sama saya”.

Wajah ikhlas itu semakin ikhlas ketika mengucapkan kata–kata, Tuhan sayang sama saya, seluruh panca indera saya terasa segar, saya seperti melihat surga di lelaki depan saya.

Ketika dengan sungkan beliau menawari saya, apakah saya mau dibikinin teh, karena beliau takut saya tersinggung karena di rumah itu ada orang sakit TBC. Saya menjawab tidak keberatan, dan ketika teh itu datang di depan saya, saya segera meminumnya dengan rasa syukur, betapa bahagianya saya hari itu, meminum teh yang sangat penuh rahmat, dari rejeki yang halal, dibikin oleh lelaki yang penuh rahmat, ini rejeki yang tidak bisa dinilai.

Tuhan sayang sama kita.
Ketika putra kami yang kedua, Rangga, yang baru lahir dua bulan lalu harus masuk rumah sakit, saya lihat istri saya nampak tertekan. Saya maklum akan hal itu, karena sebagai ibu ikatan batin yang kuat membuatnya sangat terpukul. Melihat putra kami yang mungil terbaring di kotak penyinaran, membuat istri saya sering menangis.

Sering sambil menangis dia berkata, "kenapa harus anakku, Tuhan tidak adil, aku sudah merawatnya dari dia di kandungan, aku sayang sama dia". Saya di sampingnya selalu mencoba menyabarkan, bahwa ini yang terbaik buat kita, tidak baik kita menganggap Tuhan tidak adil terhadap kita. Kesedihan istri saya sedikit terobati, begitu di rumah sakit berkenalan dengan banyak ibu-ibu yang juga menunggu anaknya yang sakit, dan lumrahnya manusia, kesedihan akan berkurang ketika kita sadar bahwa bukan kita saja yang mengalami.

Keluar dari rumah sakit, kami bersyukur anak kami bertambah sehat, berkembang dan semakin lucu. Tetangga kami, pasangan suami istri, pensiunan sebuah Bank Pemerintah di Jakarta, menanyakan kabar anak kami. Kami jawab sudah sembuh, dan makin sehat.
“Syukurlah, itu rencana Tuhan, kita percaya sama yang di atas bahwa itu yang terbaik buat kita, tidak usah takut bahwa nantinya akan ada sesuatu dengan anak kita,” kata si ibu. Beliau kemudian bercerita bahwa anak pertamanya premature, masuk rumah sakit beberapa kali, di vonis ada kelainan, tetapi yang beliau lakukan hanyalah lakukan yang terbaik buat anak dan percaya bahwa Tuhan sayang kepada kita.

Pada perkembangannya, beliau cerita bahwa anaknya normal, bahkan paling pintar dari empat putranya, bisa menempuh pendidikan tinggi, jauh dari perkiraan dokter bahwa ada kelainan saat besarnya nanti. Saya melihat wajah istri saya tenang ketika mendengar si ibu bercerita. Dan setelah itu saya berkata, "jalani hidup ini dengan tenang, percaya bahwa ini yang terbaik dari Tuhan".

Tuhan sayang dengan kita.
Betapa piciknya kalau kita hanya merasa itu kalau kita merasa senang atau diuntungkan dalam hidup ini. Seharusnya kita sadar betapa sayangnya Tuhan terhadap kita, sampai–sampai selalu membuka pintu taubat terhadap kesalahan kita. Padahal dengan kekuasanNya, apa yang tidak bisa Tuhan perbuat.

Berbahagialah manusia yang dalam setiap tarikan nafasnya dalam situasi apapun selalu ingat bahwa Tuhan sayang dengan kita.

Jadi sudahkah kita hari ini, ketika bangun dari tidur merasa bahwa Tuhan masih sayang dengan kita, dengan memberi kita kesempatan untuk hidup. Setelah itu kita sarapan sebelum aktifitas hari ini, apakah kita sudah merasa Tuhan sayang dengan kita, dengan memberi kita kesempatan untuk makan pagi. Kita berangkat kerja pagi ini, sudahkah kita merasa Tuhan sayang dengan kita, dengan memberi kita kesempatan untuk bekerja mencari nafkah. Senyum istri kita, lambaian tangan anak kita, tawa teman sekerja, udara yang kita hirup, kesehatan yang kita dapat, dan masih banyak lagi hari ini yang kita dapat dari Tuhan.

Jadi apakah anda setuju, bahwa Tuhan masih sayang dengan kita, dalam kondisi apapun, itulah yang terbaik buat kita, betapa murah hatinya Tuhan memberi kita kesempatan. Betapa sayangnya Tuhan terhadap kita, bahkan perintah Tuhan bukan untuk kebaikanNya, tapi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Masihkah kita merasa hidup ini tidak adil?

Terima kasih, sampaikan salam saya untuk keluarga terkasih anda, dimana Tuhan menitipkankan sayangNya untuk anda melaui mereka.

Rgds,
DQ - pejuang pemikir, pemikir pejuang

Kamis, 20 November 2008

Meniru Seleksi Karyawan Model Google

Seperti halnya pemerintah Indonesia yang membuka lowongan PNS, Google juga menerima karyawan baru. Tentu saja model seleksinya berbeda dengan tes CPNS.

BERAPA banyak bola golf yang bisa dimasukkan ke dalam bis sekolah? Ini bukan kuis atau teka-teki berhadiah pada acara televisi. Melainkan sebuah pertanyaan pada wawancara pekerjaan. Perusahaan teknologi informasi seperti Google, Microsoft, dan Ebay memang memiliki cara unik dalam merekrut karyawan baru.

Tes seleksi yang digunakan menunjukkan mereka tak sekadar mencari calon karyawan cerdas, namun juga kreatif.

Banyak pertanyaan aneh, unik, yang tak gampang ditemukan solusinya. Simak soal berikut. Jika Anda kepala dari lima bajak laut, hendak membagi jarahan 100 kilogram emas. Bagaimana cara membaginya agar Anda meraup bagian terbesar, namun anak buah tak memberontak?

Beberapa waktu lalu, iklan lowongan pekerjaan Google menarik perhatian pelintas jalan Highway 101, SIlicon Valey California. Pasalnya, baliho berukuran raksasa itu tak memuat secara detail cara mengajukan lamaran.

Prosedur lamaran tersembunyi dalam sebuah situs internet. Nama situs tersebut adalah jawaban dari pertanyaan: bilangan prima terkecil dengan panjang sepuluh digit. Jawabannya adalah 7427466391. Artinya, pelamar mesti mengunjungi situs 7427466391. com (saat ini situs ini sudah ditutup). Setelah masuk situs itu, pelamar kembali dihadapkan pada berbagai pertanyaan sulit.
Boleh Mencontek

Dalam situs resminya, Google menyatakan mereka menggunakan teknik yang disebut Google Lab Aptitude Test (GLAT) untuk menyaring karyawan baru. Teknik itu, menurutnya digunakan untuk menjaring pekerja yang memiliki aptitude dan psikologi menonjol. Paling tidak separo soalnya matematika dengan tingkat kesukaran tinggi. Soal-soal tersebut tak dirahasiakan namun diposting secara bebas di internet.

Seberapa sulit soalnya? Cobalah jawab pertanyaan ini. Berapa jumlah anggota ideal dalam sebuah tim, sedemikian rupa sehingga penambahan anggota tak akan memberi kontribusi maksimal? Ada lima opsi jawaban yakni 1, 3, 5, 11, dan 24.

Judi Gilbert, Direktur SDM Google menyatakan GLAT didesain untuk mencari pekerja yang memiliki daya analisis, membuat taksiran, serta menarik simpulan. Adapun jawabannya juga tak selalu eksak. ”Bagi Google, karyawan merupakan aset paling berharga. Kami mencari yang terbaik, namun kami juga memberi salari yang pantas,” ujar Gilbert.

Sebagai perusahaan yang menggantungkan diri pada inovasi, Google membutuhkan karyawan yang kreatif, mampu bekerja dalam tim, serta memiliki keyakinan segala masalah bisa dipecahkan menggunakan teknologi, lanjutnya.

Soal tes masuk Google tak dirahasiakan. Siapapun bisa mengunduhnya di internet. Bagi Anda yang berminat bekerja di Google, ada sekadar mencoba mengerjakan tes masuknya bisa berkunjung ke situs www.google.com/suport/jobs.

Menurut Alan Eustace, inti dari kerja Google adalah memecahkan problem komputasi. Karenanya, mereka membutuhkan orang yang terobsesi memecahkan masalah.
Itulah alasan mengapa soal dipasang secara terbuka, untuk menarik minat para ”pemecah problem”.

Dengan sifatnya yang terbuka, tentu saja pelamar bisa mencontek, bertanya kepada orang lain, atau mencari referensi. Situasi tersebut justru sesuai dengan atmosfer kerja di Google bahwa masalah tak bisa dipecahkan dalam kesendirian.

Untuk mencari birokrat yang kreatif dan mampu memecahkan masalah, mungkinkah tes CPNS dibuat seperti yang dilakukan Google?
Sumber : suaramerka.com